DAHULU ketika kita menyebut politisi, Islam atau bukan, pada masa awal gerakan kemerdekaan Indonesia, maka kita akan menyebut sederet pemikir
Indonesia. Sebut saja nama-nama seperti HOS Tjokroaminoto, H. Agus Salim, Sukarno, Hatta, M. Natsir, Wahid Hasyim, dan lainnya. Mudah sekali menemukan tulisan-tulisan mereka yang menunjukkan bagaimana gagasan mereka tentang Indonesia dan masa depannya. Mereka juga dikenal sebagai politisi ulung yang sanggup mengawal gagasan Indonesia merdeka hingga mewujud menjadi kenyataan.Gerakan-gerakan politik mereka bahkan dapat melampaui politik para raja lama yang akhirnya tunduk pada kuasa Belanda.
Hingga saat ini, kita masih bisa membaca perdebatan-perdebatan mereka yang tertulis, baik dalam buku-buku mereka maupun di surat kabar. Mereka berpolitik dengan gagasan yang jelas dan matang. Bisa jadi Aidit tidak sejalan dengan Natsir. Tapi keduanya sama-sama menulis. Sukarno bersebarang jalan pada akhirnya dengan Hatta, tapi kedua-duanya menuliskan alasan-alasan mereka secara bernas dalam buku-buku dan tulisan mereka di Koran.
Suharto tidak dikendalikan oleh Partai Politik untuk memasukkan orang-orang tertentu yang tidak jelas track record dalam bidangnya untuk menjadi pembantunya. Suharto menjalankan proses teknokratisasi secara relatif berhasil pada masanya. Gagasannya banyak ditentang. Kita tahu tahun 1990-an adalah tahun buku-buku berat dan serius menjadi buku-buku best seller di berbagai toko buku. Penulis-penulis serius seperti Amin Rais, Kuntowijoyo, Nurcholis Madjid, Quraisy Shihab, Harun Nasution, Yahya Muhaimin, dan lainnya adalah di antara nama-nama yang menghiasi buku-buku laris Tanah Air saat itu.
Anehnya, tema mulai bergeser. Zaman ini buku-buku pemikiran bukan lagi buruan utama. Pertengahan tahun 2000-an adalah tahun booming buku-buku remaja bergenre ringan dan menghibur: chicklit, teenlit, novel percintaan walaupun berbalut agama, dan buku-buku serba ringan. Entah apa sebabnya.
Lama kelamaan suasana politik bukan lagi ruang diskusi gagasan yang menarik antar-ideologi. Ruang politik berubah menjadi ruang transaksional. Tidak heran belum genap Reformasi berusia 30 tahun, angka korupsi sudah semakin memalukan.
Malaysia Latest News, Malaysia Headlines
Similar News:You can also read news stories similar to this one that we have collected from other news sources.
LPEI Gandeng Bank Besar Demi Genjot Ekspor RILembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) / Indonesia Eximbank secara aktif mendorong ekspor Indonesia.
Read more »
India Ajak Timnas Indonesia Uji CobaDuta besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty mengajak Timnas Indonesia melakoni pertandingan persahabatan dengan timnas Indonesia.
Read more »
Dari Tujuh Calon Anggota LPSK Baru, Tiga Calon adalah Muka LamaTiga Wakil Ketua LPSK yang terpilih kembali diharapkan dapat mendorong keberlanjutan lembaga tersebut di masa datang.
Read more »
Calon-calon Manajer Baru MU Tak Oke, Neville: Mending Ten Hag LanjutSejumlah nama sudah dikaitkan dengan Manchester United seiring masa depan Erik ten Hag yang abu-abu. Tapi nama-nama itu tak meyakinkan buat Gary Neville.
Read more »
Harapan Pengusaha Migas ke Prabowo-Gibran yang Menang Pilpres 2024Pengusaha hulu migas memiliki sejumlah harapan kepada calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) terpilih.
Read more »
Prabowo-Gibran Menang Pilpres 2024, Pengusaha Tambang Titip IniPengusaha tambang memiliki sejumlah harapan terhadap calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) terpilih.
Read more »